Hemm,, bukan bermaksud mengiklankan 3. Tapi itu lah kenyataannya. Namaku jadi terkenal karenanya.
Entah kenapa terlalu banyak nama Agus di dunia ini. Ah pusing!!! Mo bikin akun e-mail, blog, atau apapun,,, “sorry, the username already exist”. Cape’ dehhhh.
Tapi bagaimanapun juga, aku salut pada kedua orang tuaku yang telah menamaiku “Agus”. Agus Hariyanto lengkapnya. Ya, bukan apa-apa. Karena memang aku dilahirkan tanggal 1 Agustus. Di sebuah rumah mungil di pedesaan kota Ngawi. Pukul 05.30 ketika sinar surya mulai menerobos celah jendela rumahku. Oh, so suiiiiiittt….
Lahirlah Agus Hariyanto dari sebuah rumah kesederhanaan. Menjalani masa kecil dengan didikan penuh kesederhanaan, jauh dari angan-angan hiruk pikuk kota. Dan menjadi dewasa di kota lain untuk memperjuangkan sebuah budaya Ngawi yang penuh kesederhanaan. Tidak kurang tidak lebih. Hanya itu.
Dan kota-kota itu terngiang di benakku. Benak seorang anak desa yang haus akan hikmah.
Ngawi-Jogja-Purwokerto… Serasa menjalani sebuah metamorfose kehidupan. Meski dapat ditempuh dengan perjalanan TUJUH jam. Tapi metamorfose itu begitu kental terasa.
Ngawi. Di sana aku menimba ilmu dan belajar untuk mulai mengenal apa itu ilmu. Dari TK sampai SMA dengan segala transformasinya. Di sana lah aku mulai mengenal apa itu cita-cita dan mulai memilihnya: guru atau dokter.
Jogja. Bisa dibilang kota ini tempatku tersesat layaknya orang udik di kota besar. Bagaimana tidak? Tadinya kepengen jadi guru atau dokter, eh, malah kepencut di arsitek. Pas banget dulu ada iklan (apa ya, lupa) “Ini Budi, Calon Arsitek”. “Wueeehhh,,,,” sanjungku yang tentu saja kutujukan untukku sendiri.
Hah,,, lelah dua tahun menyusuri liku-liku jalan Yogyakarta dengan segala perempatannya. Apalagi polisi tidurnya bertebaran di setiap jalan-jalan kecil perkotaan. Buanyak buanget…! Apalagi di Pogung tempat kost2an anak UGM. Tapi ada kabar bagus. Dari perjalanan yang melelahkan itu aku mendapatkan banyak hal. Banyak. Banyak banget. Bersyukur jadinya dapat singgah di Jogja.
Lalu,,, Purwokerto. Duh, ngapak-e puoolll. Tapi, ah, ga peduli. Yang penting Q mendapatkan cita-citaku disini. Cita-cita yang kedua yang ada dalam daftarku. Dokter. Hem,,, hidup ini jadi manis kalo kita bisa berbagi. Alhamdulillah-nya, dokter sangat dituntut untuk bisa berbagi. Apapun.
So,, dokter, aku datang….
Oalahh,,,,
Assalamu’alaikum.
Dari mas imot bisa nyampe sini.
satuagustus? baru lewat. Turut berduka cita ya pak atas berkurangnya jatah hidup. selamat menikmati metamorfose hidup berikutnya.
Oleh: arum on 2 Agustus 2009
at 22:42
Wa’alaikumsalam
Hehe, makasih ah buat imot…
Ok. Matur nuwun. Semoga metamorfose ini berjalan penuh hikmah.
Oleh: Agus Hariyanto on 10 Agustus 2009
at 15:21